Madura Hama? Fitnah terhadap Madura yang Tak Pernah Berdasar

Stigma, ketidakadilan, dan fakta sejarah yang sengaja diabaikan

Ada satu stigma hina yang sesekali beredar di ruang publik: “Madura itu hama.”
Ucapan ini bukan sekadar kasar, melainkan cermin kebodohan sejarah dan ketumpulan nurani. Menyebut Madura sebagai hama sama artinya dengan menutup mata terhadap jasa, kontribusi, dan pengorbanan orang Madura bagi bangsa ini.


Jika hama adalah sesuatu yang merusak, maka pertanyaannya sederhana: apa yang telah dirusak oleh Madura?
Faktanya justru sebaliknya. Madura terlalu banyak memberi. Dari tembakau Madura, negara menikmati triliunan rupiah cukai setiap tahun. Dari garam Madura, jutaan ton menopang kebutuhan rumah tangga dan industri nasional. Dari sapi Madura, ketahanan pangan ikut disangga. Dan dari jutaan perantau Madura, mengalir remitansi miliaran rupiah ke kampung halaman, menghidupi keluarga dan menggerakkan ekonomi desa. Semua ini adalah bukti nyata: orang Madura bukan hama, melainkan penopang.


Namun fitnah terhadap Madura tidak berhenti pada ujaran kasar semata. Stigma ini berkelindan dengan realitas ketimpangan struktural yang dialami Madura hingga hari ini. Ironisnya, meski memberi begitu banyak, Madura masih dicatat sebagai salah satu wilayah termiskin di Jawa Timur. Infrastruktur tertinggal, akses pendidikan terbatas, lapangan kerja minim, dan industrialisasi tak berjalan. Hasil bumi diangkut keluar, tetapi yang kembali hanya remah. Maka jelas, bukan Madura yang menjadi masalah, melainkan sistem timpang yang menghisap tanpa menghadirkan keadilan.


Sejarah pun tak bisa dibantah. Orang Madura bukan hanya petani, nelayan, dan perantau pekerja keras. Mereka juga pejuang bangsa. Darah orang Madura tumpah di medan perang, ulama dan santrinya menggerakkan jihad melawan penjajah, dan banyak yang gugur demi merah putih. Menyebut Madura sebagai hama sama saja dengan meludahi jasa para pahlawan dan merendahkan pengorbanan mereka yang telah mengorbankan segalanya demi negeri ini.


Sayangnya, stigma busuk ini tidak lahir dari fakta, melainkan dari prasangka. Satu-dua peristiwa carok dibesar-besarkan, kriminalitas kecil dijadikan label kolektif, sementara ribuan kisah kerja keras, solidaritas, dan keberhasilan perantau Madura jarang diangkat. Media lebih gemar menyoroti konflik daripada kontribusi, sehingga prasangka dipelihara dan kebenaran dikubur dalam-dalam.


Inilah hakikat fitnah terhadap Madura: ia hidup dari pengaburan sejarah dan ketidakjujuran melihat realitas. Padahal Madura bukan hama. Madura adalah urat nadi bangsa, penopang ekonomi, benteng sejarah, dan simbol daya juang. Yang patut diberantas bukan orang Madura, melainkan ketidakadilan struktural dan prasangka kotor yang menutup mata dari kenyataan.


Sejarah selalu berpihak kepada mereka yang memberi, bukan kepada mereka yang hanya mampu menghina. Dan Madura, dengan segala kontribusinya, akan tetap berdiri sebagai bagian terhormat dari bangsa ini, terlepas dari seberapa keras fitnah itu diulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *