Banyuanyar, Pamekasan | Kamis, 9 Oktober 2025
Menanggapi polemik nasab Rasulullah SAW yang berkembang di ruang publik, KH Raden Abbas Muhammad Rofi’i Baidowi, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hamidy Banyuanyar, Pamekasan, menegaskan bahwa pembahasan nasab Rasulullah SAW harus disikapi secara proporsional, ilmiah, dan beradab, karena kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh garis keturunan semata, melainkan oleh akhlak, ilmu, dan ketaatan pada syariat Islam.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui Admin Media Sosial Majlis Persatuan dan Persaudaraan Masyarakat Madura (MPPM) sebagai bentuk keprihatinan atas perdebatan nasab yang berpotensi menimbulkan kegaduhan di tengah umat Islam.
Dalam pandangannya, KH Raden Abbas menegaskan bahwa pembahasan mengenai nasab Rasulullah SAW harus ditempatkan secara proporsional, ilmiah, dan beradab. Menurut beliau, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh darah atau gelar keturunan, melainkan oleh akhlak, ilmu, dan amal perbuatan.
Ia menjelaskan bahwa dzurriyah Rasulullah SAW di Nusantara tidak berasal dari satu jalur tunggal. Sebagian berasal dari jalur habaib Ba‘alawi yang datang dari Hadramaut, sementara sebagian lainnya menurunkan para wali besar penyebar Islam di Nusantara, yakni Walisongo. Kedua jalur tersebut memiliki peran penting dalam sejarah dakwah Islam dan sama-sama harus dihormati selama menegakkan syariat dan akhlak.
“Saya tidak respect kepada siapa pun yang memutus nasab, baik oknum kiai yang menafikan habaib, maupun oknum habib yang menafikan dzurriyah Walisongo.
Nasab ya nasab, akhlak ya akhlak.
Semua timbangannya adalah syariat,” tegas KH Raden Abbas.
KH Raden Abbas juga menyampaikan bahwa di Madura terdapat banyak pesantren besar yang berdiri dari jalur dzurriyah Walisongo, yang dengan demikian juga merupakan dzurriyah Rasulullah SAW. Pesantren-pesantren tersebut hingga kini tetap istiqamah menjaga warisan keilmuan, adab, dan dakwah Islam, serta tersebar di berbagai daerah seperti Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.
Menurutnya, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan simpul nasab dan sanad keilmuan yang menyambung perjuangan Rasulullah SAW melalui dakwah para wali. Kehormatan Nabi dijaga bukan semata melalui simbol keturunan, tetapi melalui pengabdian dan pewarisan ilmu.
“Kalau ada dzurriyah Rasulullah yang salah, ya tetap salah.
Syariat itu universal dan tidak memilih darah.
Tidak ada satu pun keluarga Nabi yang dikecualikan dari tuntunan akhlak dan hukum,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa persoalan yang melibatkan dzurriyah Rasulullah SAW hendaknya disikapi dengan adab dan melalui jalur yang tepat. Jika berkaitan dengan kalangan habaib, sebaiknya disampaikan melalui Rabithah Alawiyah sebagai lembaga resmi penjaga nasab Ba‘alawi. Sementara jika menyangkut dzurriyah Walisongo, hendaknya disampaikan secara hormat kepada para kiai sepuh pesantren dzurriyah atau pihak yang memiliki legitimasi keilmuan dan moral.
Pandangan ini menegaskan bahwa Islam tidak mengenal kasta keturunan. Kemuliaan bukan diwariskan, tetapi diperjuangkan. Pewaris sejati Rasulullah SAW adalah mereka yang meneladani akhlak, ilmu, dan perjuangan beliau.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
“Barang siapa yang lambat amalnya, tidak akan dipercepat kemuliaannya oleh nasabnya.”
(HR. Muslim)
KH Raden Abbas menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa menjaga nasab berarti menjaga amanah moral. Nasab adalah kehormatan, tetapi akhlak adalah pembuktian. Hanya mereka yang menegakkan adab dan syariat yang layak disebut sebagai pewaris sejati Rasulullah SAW.
