Jumlah Pekerja Indonesia di Malaysia Terus Menurun, Dubes RI Ungkap Penyebabnya

Kuala Lumpur 7 September 2025

Jumlah pekerja migran Indonesia di Malaysia terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya Malaysia menjadi tujuan utama pencari kerja asal Indonesia, kini banyak yang lebih memilih negara lain seperti Jepang, Taiwan, Singapura, Hong Kong, hingga Arab Saudi.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia, Datuk Hermono, mengungkapkan bahwa tren penurunan tersebut terlihat jelas dari data terbaru. Pada tahun 2024, jumlah pekerja resmi asal Indonesia di Malaysia tercatat sekitar 591 ribu orang. Namun, angka tersebut kini menurun menjadi sekitar 543 ribu orang.

“Malaysia sudah bukan lagi tempat mencari rezeki yang menarik bagi pekerja Indonesia. Mereka kini lebih memilih negara lain yang menawarkan gaji lebih tinggi,” ujar Hermono dalam wawancara di Kuala Lumpur.

Permintaan Tinggi, Realisasi Rendah

Berdasarkan data sejak 1 Januari hingga 4 September 2025, permintaan tenaga kerja domestik di Malaysia tercatat mencapai 22.651 orang. Namun, jumlah perjanjian kerja yang berhasil direalisasikan hanya 6.506 perjanjian.

Sementara itu, untuk sektor formal seperti perkebunan, dari total 11.394 permintaan tenaga kerja, hanya 9.106 perjanjian kerja yang berhasil ditandatangani.

Menurut Hermono, tren penurunan ini bukan sekadar angka statistik. Banyak pekerja Indonesia yang telah menyelesaikan kontrak kerja selama dua tahun di Malaysia memilih untuk pulang ke tanah air atau langsung berpindah ke negara lain.

“Kalau kita lihat dalam enam bulan terakhir, jumlah pekerja berdokumen juga semakin berkurang,” jelasnya.

Gaji Dinilai Tak Lagi Kompetitif

Salah satu faktor utama menurunnya minat pekerja Indonesia ke Malaysia adalah tingkat gaji yang dinilai tidak lagi kompetitif dibandingkan negara tujuan lainnya.

“Sepuluh tahun lalu, proyek konstruksi di Malaysia didominasi pekerja Indonesia. Sekarang justru pekerja dari Bangladesh yang lebih banyak. Kalau ada pekerja Indonesia, paling hanya satu atau dua orang saja,” kata Hermono.

Selain faktor upah, pengawasan ketat dari pemerintah Malaysia turut menyebabkan penurunan signifikan jumlah pekerja tanpa izin asal Indonesia.

Peluang di Sektor Kesehatan

Meski demikian, Hermono melihat masih terdapat peluang baru bagi tenaga kerja Indonesia, khususnya di sektor kesehatan. Menurutnya, Malaysia berpotensi membuka akses bagi tenaga perawat asal Indonesia, mengingat tingginya jumlah pasien dari Indonesia yang menjalani perawatan medis di rumah sakit Malaysia, terutama di Penang dan Melaka.

“Kalau tenaga perawat Indonesia bisa masuk, tentu akan memudahkan pasien dari Indonesia, sekaligus membuka lapangan kerja baru. Malaysia memiliki sektor wisata kesehatan yang maju, dan ini bisa menjadi pintu masuk bagi tenaga profesional kita,” ujarnya.

Hermono menambahkan bahwa Indonesia sebelumnya telah memiliki pengalaman mengirim tenaga perawat ke Singapura untuk menangani perawatan warga lanjut usia. Jika skema serupa diterapkan di Malaysia, peluang tersebut diyakini dapat memperluas sektor kerja bagi tenaga profesional asal Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *