MPPM Serukan Penyikapan Bijak Kasus Viral Surabaya

Kegiatan resmi Majelis Persatuan dan Persaudaraan Masyarakat Madura (MPPM).

MPPM News | Perkembangan informasi di ruang digital kembali menjadi sorotan publik seiring beredarnya sebuah peristiwa yang viral di Surabaya. Beragam respons dan penilaian muncul di media sosial, menyusul cepatnya penyebaran potongan video dan narasi yang menyertainya.

Menyikapi kondisi tersebut, Majelis Persatuan dan Persaudaraan Masyarakat Madura (MPPM) menyerukan agar masyarakat menyikapi setiap peristiwa yang viral secara bijak, tenang, dan proporsional. MPPM menilai, arus informasi yang bergerak cepat kerap tidak disertai dengan konteks yang utuh.


Ketua Umum MPPM, H. Bung Muhdar, menegaskan bahwa sebuah peristiwa tidak semestinya disikapi secara berlebihan apalagi digeneralisir. Menurutnya, setiap kejadian harus ditempatkan sebagai kasus yang berdiri sendiri dan diselesaikan melalui mekanisme hukum yang berlaku.

“Peristiwa yang viral perlu disikapi secara objektif. Jangan digeneralisir dan jangan dikembangkan ke arah yang tidak relevan. Serahkan sepenuhnya kepada proses hukum agar penanganannya berjalan adil dan transparan,” ujar H. Bung Muhdar.


Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat saat ini kerap dihadapkan pada potongan informasi visual yang memicu reaksi emosional. Tanpa kehati-hatian, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kesimpulan prematur yang justru memperkeruh suasana di tengah masyarakat.


Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal MPPM, Abdul Kholik, menekankan pentingnya menjaga ketenangan ruang publik. Ia menilai, penghakiman di media sosial tidak akan menyelesaikan persoalan, melainkan berpotensi menambah dampak sosial yang lebih luas.

“Ruang publik seharusnya menjadi ruang yang rasional dan menenangkan. Kita perlu memberi kepercayaan kepada aparat penegak hukum untuk bekerja sesuai kewenangannya,” kata Abdul Kholik.


Dalam konteks pernyataan tersebut, MPPM menyinggung beredarnya sebuah video di media sosial yang memperlihatkan peristiwa pengusiran seorang lansia dari rumahnya di Surabaya, yang kemudian memicu empati sekaligus perdebatan publik. MPPM menilai, peristiwa yang terekam dalam video tersebut perlu dilihat secara utuh dan tidak dilepaskan dari proses hukum yang sedang berjalan.


MPPM berharap masyarakat dapat menjadikan peristiwa viral tersebut sebagai pembelajaran bersama, dengan mengedepankan sikap dewasa, tidak terburu-buru menarik kesimpulan, serta tetap menghormati proses hukum demi menjaga ketertiban dan keharmonisan sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *