MPPMNEWS – Prof. Dr. M. Quraish Shihab, ulama dan mufasir terkemuka Indonesia, secara konsisten menegaskan bahwa inti dari ajaran agama Islam adalah akhlak. Dalam berbagai karya tafsir dan ceramahnya, beliau menjelaskan bahwa seluruh ibadah ritual, seperti salat, zakat, puasa, dan haji, tidak berhenti pada pelaksanaan formal semata, melainkan bertujuan membentuk karakter dan akhlak mulia manusia.
Ibadah dalam Islam diarahkan untuk memperbaiki hubungan manusia dengan Allah (ḥablun minallāh) sekaligus dengan sesama manusia (ḥablun minannās). Karena itu, menurut Quraish Shihab, akhlak adalah cerminan paling nyata dari keimanan. Perilaku baik merupakan bukti hidup dari agama, sementara kekerasan, makian, dan kebencian justru menandakan kegagalan memahami pesan dasar Islam.
Misi Kenabian: Menyempurnakan Akhlak
Quraish Shihab menegaskan bahwa misi utama diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah penyempurnaan akhlak manusia. Hal ini sejalan dengan hadis Nabi:
“Innamā bu‘itstu li-utammima makārimal akhlāq”
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
(HR. Ahmad)
Dengan demikian, akhlak bukan cabang kecil dalam agama, melainkan inti dari seluruh risalah Islam. Segala ajaran, hukum, dan ibadah pada akhirnya bermuara pada pembentukan manusia yang berkarakter mulia, adil, dan beradab.
Ibadah sebagai Sarana Pembinaan Akhlak
Dalam pandangan Quraish Shihab, ibadah formal bukan tujuan akhir, tetapi sarana pendidikan jiwa. Salat seharusnya mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar, zakat menumbuhkan empati sosial, puasa melatih pengendalian diri, dan haji mengajarkan kesetaraan serta kesabaran.
Akhlak, menurut beliau, adalah sifat yang menetap dalam jiwa, yang darinya lahir perbuatan secara spontan tanpa paksaan. Jika ibadah tidak melahirkan perubahan perilaku, maka yang perlu dikoreksi bukan ajarannya, melainkan cara memahami dan mengamalkannya.
Larangan Memaki dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an secara tegas melarang umat Islam untuk memaki pihak lain, bahkan terhadap mereka yang berbeda keyakinan. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.”
(QS. Al-An‘ām: 108)
Ayat ini menunjukkan bahwa akhlak harus dijaga bahkan dalam perbedaan akidah. Islam tidak membenarkan dakwah yang disertai caci maki. Karena itu, Quraish Shihab menegaskan, jika seseorang mudah memaki dan menghujat, maka sikap tersebut bertentangan dengan nilai Al-Qur’an. Seorang ustaz atau kiai sejatinya menjadi teladan akhlak, bukan sumber ujaran kebencian.
Perbedaan sebagai Kehendak Tuhan
Quraish Shihab juga kerap mengingatkan bahwa perbedaan adalah sunnatullah, kehendak Allah yang tidak bisa dihapuskan. Al-Qur’an menegaskan:
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً
“Dan jika Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat saja.”
(QS. Al-Mā’idah: 48)
Perbedaan baik dalam pandangan, pemahaman, maupun penafsiran adalah bagian dari realitas kehidupan. Bahkan Al-Qur’an mengajarkan sikap rendah hati dalam menyikapi perbedaan kebenaran
قُلْ إِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَىٰ هُدًى أَوْ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
“Katakanlah: sesungguhnya kami atau kamu berada di atas petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata.”
(QS. Saba’: 24)
Ayat ini tidak mengajarkan klaim kebenaran yang arogan, melainkan etika dialog dan kerendahan hati.
Allah melanjutkan:
قُل لَّا تُسْأَلُونَ عَمَّا أَجْرَمْنَا وَلَا نُسْأَلُ عَمَّا تَعْمَلُونَ
“Katakanlah: kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang dosa yang kami perbuat, dan kami tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang kamu perbuat.”
(QS. Saba’: 25)
Pesan ayat ini jelas: tidak saling menghakimi dan tidak saling menyalahkan, karena pertanggungjawaban akhir sepenuhnya berada di tangan Allah.
Akhlak yang Kian Tergerus
Dalam konteks kekinian, pesan-pesan ini terasa semakin relevan. Perbedaan sering kali berujung pada hujatan, makian, dan permusuhan, bahkan di ruang-ruang keagamaan. Akhlak dialog yang diajarkan Al-Qur’an perlahan menghilang, digantikan sikap merasa paling benar.
Quraish Shihab mengingatkan bahwa ukuran keberagamaan bukan pada kerasnya retorika atau banyaknya simbol, melainkan pada keluhuran akhlak dan kedewasaan sikap. Tanpa akhlak, agama kehilangan ruhnya dan gagal menjadi rahmat bagi semesta.
Kesimpulan
Pemikiran Prof. Dr. M. Quraish Shihab menegaskan bahwa akhlak adalah jantung ajaran Islam. Ibadah adalah sarana, bukan tujuan; perbedaan adalah kehendak Tuhan, bukan alasan permusuhan; dan keimanan sejati tercermin dalam perilaku yang santun, adil, dan beradab. Inilah pesan Al-Qur’an yang mendasar dan inilah akhlak yang perlu dihidupkan kembali.
Editor: Redaksi MPPM News.
