Bangkalan (MPPM News) — Aksi unjuk rasa bertajuk Reset Bangkalan yang digelar ratusan mahasiswa di depan Kantor Pemerintah Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, berakhir ricuh setelah aparat kepolisian menyemprotkan water cannon untuk membubarkan massa, Senin (19/1).
Aksi tersebut digelar oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bangkalan sebagai bentuk kritik terhadap kinerja pemerintah daerah yang dinilai belum merealisasikan sejumlah janji dan program strategis.
Koordinator lapangan aksi, Isra’ Mi’raj, menyampaikan bahwa mahasiswa membawa sejumlah tuntutan, di antaranya perbaikan pelayanan publik, peningkatan kualitas pendidikan, kesejahteraan guru, transparansi anggaran, penciptaan lapangan kerja, serta evaluasi program pembangunan daerah.
Menurutnya, massa awalnya berupaya menyampaikan aspirasi secara damai dan berharap dapat berdialog langsung dengan kepala daerah. Namun, saat mahasiswa mencoba mendekati area kantor bupati, terjadi dorong-dorongan dengan aparat keamanan yang berjaga.
Situasi memanas hingga aparat kepolisian akhirnya menggunakan water cannon untuk mengurai massa. Sejumlah mahasiswa dilaporkan mengalami luka ringan, sementara beberapa atribut aksi mengalami kerusakan.
Menanggapi insiden tersebut, Lukman Hakim, menyampaikan permohonan maaf kepada mahasiswa dan masyarakat atas kejadian yang terjadi saat aksi berlangsung.
“Saya menyampaikan permohonan maaf kepada adik-adik mahasiswa. Aspirasi adalah bagian dari demokrasi dan akan kami jadikan bahan evaluasi,” ujar Lukman dalam keterangannya.
Ia menjelaskan bahwa ketidakhadirannya menemui massa aksi disebabkan adanya agenda yang telah terjadwal sebelumnya, serta menegaskan tidak ada niat dari pemerintah daerah untuk mengabaikan aspirasi mahasiswa.
Peristiwa ini menjadi perhatian publik di Madura, sekaligus menegaskan pentingnya ruang dialog terbuka antara pemerintah daerah dan mahasiswa agar penyampaian aspirasi dapat berlangsung secara aman, tertib, dan konstruktif.
