Oleh : MPPM News
Majlis Persatuan & Persaudaraan Masyarakat Madura (MPPM) hadir sebagai ruang kebersamaan bagi masyarakat Madura, khususnya di perantauan. Berlandaskan nilai-nilai Islam, MPPM berikhtiar merawat persatuan dan persaudaraan agar ikatan sosial yang telah tumbuh tetap terjaga, terarah, dan memberi manfaat nyata bagi sesama.
Dalam ajaran Islam, persatuan dan persaudaraan bukan sekadar nilai sosial, melainkan bagian dari tuntunan hidup bermasyarakat. Islam mengajarkan umatnya untuk hidup bersama, saling menguatkan, saling membantu, dan saling menjaga. Dari sudut pandang inilah MPPM dipahami sebagai wadah kebersamaan yang menumbuhkan ikhtiar kolektif demi kemaslahatan masyarakat Madura.
Secara makna, majlis adalah tempat duduk bersama. Dalam Islam, majlis tidak hanya dipahami sebagai pertemuan fisik, tetapi juga sebagai ruang bertemunya niat, kepedulian, dan tujuan. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa setiap perkumpulan yang diisi dengan kebaikan akan menghadirkan ketenangan dan rahmat. Karena itu, majlis menjadi titik awal dalam membangun hubungan sosial yang sehat dan bermakna.
Dalam konteks MPPM, majlis dimaknai sebagai ruang untuk saling mendengar, saling memahami, dan saling menguatkan. Ia menjadi tempat masyarakat Madura bertemu sebagai sesama saudara, bukan untuk mempertajam perbedaan, melainkan untuk mencari titik temu dan melangkah bersama.
Persatuan merupakan tujuan utama dari kebersamaan tersebut. Islam secara tegas memerintahkan umatnya untuk berpegang teguh dalam satu ikatan dan menjauhi perpecahan. Allah SWT berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpegangteguhlah kalian semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.”(QS. Ali ‘Imran: 103)
Persatuan bukan sekadar ideal, tetapi perintah yang bersifat kolektif. Ketika persatuan terjaga, kekuatan sosial tumbuh; sebaliknya, ketika perpecahan dibiarkan, ikatan sosial perlahan melemah. Atas dasar inilah MPPM dibentuk sebagai wadah pemersatu yang mempertemukan berbagai latar belakang masyarakat Madura dalam semangat kebersamaan, agar potensi yang ada dapat dikelola secara lebih terarah dan bermanfaat luas.
Namun persatuan tidak akan hidup tanpa persaudaraan. Islam menegaskan bahwa sesama orang beriman adalah saudara. Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.”(QS. al-Ḥujurāt: 10)
Persaudaraan ini bukan sekadar ikatan perasaan, melainkan tanggung jawab moral untuk saling peduli dan saling menjaga. Rasulullah ﷺ menggambarkan hubungan sesama mukmin seperti bangunan yang saling menguatkan; setiap bagian memiliki peran dan tidak berdiri sendiri.
Dalam MPPM, persaudaraan dimaknai sebagai kebersamaan dalam rasa dan mufakat dalam langkah. Perbedaan pandangan, latar belakang, dan pengalaman tidak dijadikan alasan untuk berjarak, tetapi dikelola secara dewasa sebagai bagian dari dinamika hidup bersama.
Masyarakat Madura dikenal memiliki ikatan kekerabatan yang kuat serta tradisi tolong-menolong yang hidup, terutama di perantauan. Nilai ini merupakan modal sosial yang berharga. Namun tanpa wadah yang terkelola dengan baik, ikatan tersebut dapat melemah oleh jarak, kesibukan, dan tantangan kehidupan sehari-hari. Di sinilah peran MPPM menjadi penting, sebagai ruang bersama untuk menjaga, merawat, dan menguatkan nilai kebersamaan agar tetap hidup dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Islam mengukur kebaikan manusia dari manfaat yang ia berikan kepada sesama. Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”(HR. ath-Ṭabrānī)
Manfaat yang besar dan berkelanjutan tidak mungkin lahir dari usaha yang berjalan sendiri-sendiri. Persatuan dan persaudaraan menjadikan manfaat lebih terarah, lebih terasa, dan lebih luas dampaknya. Karena itu, Islam mendorong umatnya untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan sebagai fondasi kehidupan bersama.
Ketika kebersamaan dikelola dalam wadah yang tertata, persatuan dijaga dengan kesadaran, dan persaudaraan dirawat dengan ketulusan, tumbuhlah ikatan yang hidup dan bergerak. Dalam ajaran Islam, kebersamaan seperti inilah yang disebut sebagai jamaah. Rasulullah ﷺ bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، فَإِنَّ يَدَ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ
“Hendaklah kalian bersama kebersamaan, karena pertolongan Allah bersama kebersamaan.”(HR. at-Tirmidzi, hasan sahih)
Dalam kerangka ini, MPPM bergerak sebagai organisasi masyarakat yang berpijak pada kesadaran nilai. Ia hadir bukan hanya sebagai struktur kebersamaan, tetapi sebagai ruang yang merawat persatuan, memelihara persaudaraan, dan mengelola potensi masyarakat Madura agar tumbuh secara terarah dan saling menguatkan³. Dari ruang inilah kerja-kerja sosial dijalankan secara nyata, berangkat dari kepedulian dan tanggung jawab bersama.
Pada titik ini, MPPM menjadi bagian dari ikhtiar panjang masyarakat Madura untuk menjaga jati diri dan membangun kekuatan bersama. Persatuan dan persaudaraan yang dirawat tidak berhenti pada keharmonisan internal, tetapi diarahkan untuk memperkuat daya hidup masyarakat di tengah tantangan perantauan. Dengan berakar pada nilai dan kebersamaan, ikhtiar ini meneguhkan martabat serta menghadirkan manfaat yang nyata dan bermakna bagi masa depan bersama.
