Sebelum Walisongo, Islam Sudah Ada di Barus?

Makam Mahligai Barus Sumatera jejak awal Islam abad ke-7 Nusantara

Oleh: Abdul Kholik, Kuala Lumpur

Satu pertanyaan penting dalam sejarah Islam Nusantara hingga kini belum sepenuhnya terjawab secara jernih: kapan Islam pertama kali hadir?

Selama ini, jawaban yang paling populer hampir selalu merujuk pada satu titik Walisongo di Jawa pada abad ke-15. Narasi ini begitu kuat dan luas diterima, hingga kerap dianggap sebagai awal dari segalanya. Namun, justru karena terlalu mapan, ia jarang dipertanyakan.

Padahal, ketika berbagai sumber sejarah ditelusuri lebih jauh, gambaran tersebut tampak terlalu sederhana.

Sejumlah data dan catatan menunjukkan bahwa Islam kemungkinan telah hadir jauh lebih awal, bahkan sejak abad pertama Hijriah atau abad ke-7 Masehi. Salah satu titik pentingnya adalah Barus, di pantai barat Sumatera, yang dalam catatan kuno dikenal dengan nama Fansur.

Baca juga: Pesantren Perlawanan Kolonial: Benteng Sunyi Pribumi Melawan Belanda

Berita dari Tiongkok pada masa Dinasti Tang menyebutkan bahwa pada tahun 674 M telah terdapat sebuah perkampungan di wilayah Fansur yang dihuni oleh orang-orang Arab Muslim. Catatan ini menjadi salah satu indikasi paling awal tentang keberadaan komunitas Islam di Nusantara.

Temuan arkeologis di Barus turut memperkuat dugaan tersebut. Kompleks Makam Mahligai di Tapanuli Tengah menyimpan ratusan nisan kuno, dan pada salah satunya terdapat tulisan yang dikaitkan dengan tokoh bernama Syekh Rukunuddin yang disebut wafat pada tahun 48 Hijriah. Meski masih memerlukan penelitian lebih mendalam, temuan ini tetap memberi petunjuk penting tentang jejak awal Islam di kawasan tersebut.

Sumber dari dunia Islam juga mengarah pada kesimpulan yang serupa. Sejarawan dan pengelana Al-Mas’udi mencatat bahwa pada sekitar tahun 675 M terdapat utusan dari raja Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga di Jawa. Dalam perjalanannya, disebutkan adanya perkampungan Arab Muslim di wilayah Sumatera.

Dalam kajian modern, sejumlah peneliti turut menguatkan gambaran ini. Harry W. Hazard dalam Atlas of Islamic History menjelaskan bahwa para pedagang Muslim telah mencapai kawasan Indonesia sejak abad ke-7 Masehi. Gerini dalam Further India and Indo-Malay Archipelago menyebut keberadaan komunitas Muslim di India, Indonesia, dan Malaya antara tahun 606 hingga 699 M. Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa kaum Muslim telah hadir di kawasan Melayu-Indonesia sekitar tahun 672 M.

Pendapat serupa disampaikan oleh Syed Qodratullah Fatimy yang menyatakan bahwa pada tahun 674 M kaum Muslim Arab telah masuk ke wilayah Malaya. Muhammad Huseyn Nainar menunjukkan adanya hubungan antara Muslim India dan Nusantara sejak abad ke-7. W.P. Groeneveld, melalui kompilasi sumber-sumber Tiongkok, juga mencatat kehadiran Ta Shih sebutan untuk Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga pada masa Dinasti Tang. Sementara itu, T.W. Arnold dalam The Preaching of Islam menegaskan bahwa Islam datang ke Indonesia langsung dari Arab sejak abad pertama Hijriah.

Semua ini mengarah pada satu kesimpulan penting: Islam tidak datang ke Nusantara secara tiba-tiba pada abad ke-15, melainkan telah hadir jauh lebih awal melalui jalur perdagangan.

Di sinilah Barus menjadi penting.

Sejak sebelum Masehi, Barus dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan kapur barus yang sangat bernilai tinggi. Komoditas ini diperdagangkan hingga ke Timur Tengah dan bahkan digunakan dalam berbagai tradisi kuno, termasuk dalam proses pengawetan di Mesir. Fakta ini menegaskan bahwa hubungan antara Nusantara dan dunia Arab telah terjalin jauh sebelum Islam lahir.

Ketika Islam muncul di Jazirah Arab pada abad ke-7, jalur interaksi tersebut tidak perlu dibangun dari awal. Ia sudah ada, telah hidup, dan menghubungkan berbagai wilayah. Dalam konteks ini, kehadiran Islam di Barus menjadi sesuatu yang masuk akal sebagai bagian dari arus hubungan dagang dan budaya yang telah lama berlangsung.

Namun, ada satu hal yang membuat fase awal ini kerap terabaikan. Kehadiran Islam pada masa itu tidak langsung berkembang menjadi kekuatan politik. Ia tidak melahirkan kerajaan besar, tidak meninggalkan struktur kekuasaan yang mencolok, dan tidak tercatat secara luas dalam kronik resmi.

Akibatnya, dalam penulisan sejarah yang cenderung berfokus pada kekuasaan, fase awal ini menjadi kurang terlihat bahkan nyaris terlupakan.

Sejarah lebih sering mengingat apa yang besar dan berkuasa, dibandingkan apa yang lebih dahulu hadir tetapi tidak dominan.

Dalam kerangka ini, peran Walisongo tetap sangat penting. Namun, lebih tepat dipahami sebagai fase konsolidasi dan penyebaran Islam yang lebih terstruktur, bukan sebagai titik awal kehadirannya di Nusantara.

Dengan kata lain, apa yang selama ini dianggap sebagai “awal” bisa jadi hanyalah “puncak” dari proses panjang yang telah berlangsung sebelumnya.

Bahkan, jika melihat keseluruhan data yang ada, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Islam di Nusantara kemungkinan hadir sangat awal, bahkan berpotensi lebih dini dibandingkan dengan beberapa kawasan lain di Asia, termasuk Tiongkok. Hal ini tidak terlepas dari karakter masyarakat Nusantara sebagai pelaut dan pedagang yang telah lama aktif menjelajahi jalur laut internasional.

Pada akhirnya, memahami sejarah Islam Nusantara tidak cukup hanya melihat peristiwa besar yang tampak di permukaan. Ia perlu dibaca sebagai proses panjang yang melibatkan perdagangan, mobilitas manusia, dan perjumpaan antarperadaban.

Barus memberi satu pelajaran penting: sejarah tidak selalu dimulai dari pusat.

Sering kali, ia justru berawal dari pinggiran—dari pelabuhan, dari jalur dagang, dan dari pertemuan manusia yang datang tanpa membawa kekuasaan, tetapi membawa gagasan.

Baca juga: Jejak Sejarah Besar Pamekasan dari Masa Pamelingan hingga Zaman Kemerdekaan

Baca juga: Transformasi Peran Pesantren di Madura Dari Dakwah ke Pemberdayaan Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *