Madura Bukan Hanya Keberanian

Pertunjukan Macapat Samman di Monumen Arek Lancor, Pamekasan, dalam tradisi budaya dan keislaman masyarakat Madura.

Oleh: Abdul Kholik

Ketika nama Madura disebut, apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran orang? Kekayaan budaya dan tradisinya, kehidupan Islamnya, atau keberanian yang kerap dikaitkan dengan kekerasan? Pertanyaan ini layak diajukan karena Madura memiliki warisan budaya, tradisi keagamaan, dan sejarah keilmuan yang jauh lebih luas daripada citra yang selama ini melekat padanya.

Kekayaan itu terlihat dalam berbagai kesenian dan tradisi, mulai dari saronen, topeng dalang, mamaca, Macapat Samman, musik tong-tong, batik Madura, karapan sapi, sapi sonok, hingga tari Muang Sangkal. Gotong royong, silaturahmi, dan kepedulian terhadap sesama juga menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Semua itu merupakan warisan yang patut dikenal lebih luas, bukan sekadar menjadi kebanggaan di kalangan sendiri.

Tradisi keislaman juga menempati posisi penting dalam kehidupan masyarakat Madura. Pesantren tumbuh dari kawasan perkotaan hingga pelosok desa, menjadi ruang pendidikan agama sekaligus pewarisan ilmu dan akhlak. Berdasarkan data Kementerian Agama per 4 Oktober 2025 yang dipublikasikan GoodStats, terdapat 224 pondok pesantren di Bangkalan, 427 di Sampang, 426 di Pamekasan, dan 394 di Sumenep. Jika dijumlahkan, keempat kabupaten tersebut memiliki 1.471 pesantren dalam data tersebut.

Baca juga: Pesantren Perlawanan Kolonial: Benteng Sunyi Pribumi Melawan Belanda

Baca juga: Macapat Samman Satukan Tokoh Lintas Elemen di Pamekasan

Tradisi keilmuan itu tercermin pula dalam kiprah ulama berpengaruh, di antaranya Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan dan Kiai Itsbat bin Ishaq, pendiri Pondok Pesantren Banyuanyar di Pamekasan. Kedekatan masyarakat dengan tradisi Islam juga terlihat melalui kebiasaan sowan kepada kiai, berselawat, memperingati Maulid Nabi, dan mengadakan tahlilan. Tradisi tersebut diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Madura.

Bali dikenal luas melalui tradisi Hindu yang menyatu dengan seni, adat, arsitektur, dan kehidupan masyarakatnya. Madura pun memiliki kekhasan tersendiri melalui kehidupan Islam, pesantren, dan sejarah keulamaannya. Madura tidak perlu meniru daerah lain untuk dikenal lebih luas. Warisan budaya dan tradisi keislamannya sendiri memiliki nilai yang patut diperkenalkan kepada dunia.

Namun, ada kalanya yang lebih menonjol justru gambaran yang membuat orang salah mengenal Madura. Seolah-olah, untuk dianggap benar-benar Madura, seseorang harus tampil keras, menciptakan ketegangan, bahkan sampai membuat polisi harus ikut berjaga. Padahal, kebudayaan tidak harus membuat penonton deg-degan. Sebuah tradisi juga tidak menjadi lebih bernilai hanya karena mampu mengundang ketakutan atau memancing keributan.

Masalahnya, tindakan semacam itu terkadang dibenarkan atas nama tradisi atau kebiasaan yang diwariskan turun-temurun. Padahal, tidak semua kebiasaan lama otomatis menjadi warisan yang harus dipertahankan tanpa pertimbangan. Leluhur mewariskan banyak hal, tetapi manusia juga diberi akal untuk memilah mana yang patut dijaga dan mana yang perlu ditinggalkan. Tradisi tetap tradisi. Syariat tetap menjadi ukuran.

Jika sebuah kesenian mempererat persaudaraan, menjaga kehormatan manusia, dan tidak bertentangan dengan syariat, tradisi itu layak dirawat, dipromosikan, dan diwariskan kepada anak-anak. Namun, jika ada kebiasaan yang nyata-nyata bertentangan dengan syariat, jangan buru-buru dibungkus kain lalu diberi papan nama besar: “Kearifan Lokal.” Nama yang bagus tidak otomatis memperbaiki isinya.

Persoalan serupa terlihat ketika sebagian kelompok melakukan kekerasan atau perusakan dengan dalih membela ulama, menjaga kehormatan, atau menegakkan “tengka”. Tindakan semacam itu justru dapat mencoreng nama baik ulama yang mereka klaim sedang dibela. Membawa nama ulama atau kehormatan sebagai pembenaran tidak serta-merta menjadikan suatu tindakan benar. Niat yang diklaim baik tidak menghapus akibat buruk, apalagi jika tindakan tersebut merugikan orang lain.

Dalam kehidupan sosial masyarakat Madura, “tengka” berkaitan dengan etika, tata krama, kepantasan, dan cara seseorang menempatkan diri dalam hubungan dengan orang lain. Nilai ini juga menyangkut tanggung jawab, pemenuhan komitmen, penjagaan harga diri, serta penghormatan terhadap sesama. Karena itu, menjadikan “tengka” sebagai alasan untuk membenarkan kekerasan atau perusakan justru bertentangan dengan nilai-nilai yang dijunjungnya.

Ketidakadilan memang harus dilawan. Namun, perjuangan menegakkan kebenaran tetap harus dilakukan dengan cara yang dapat dipertanggungjawabkan. Tujuan yang baik tidak otomatis membenarkan semua cara. Membela kehormatan pun tidak seharusnya berujung pada tindakan yang merampas hak orang lain. Keberanian yang kehilangan kendali dan pertimbangan moral justru berisiko merusak nilai yang hendak dibela.

Kehormatan Madura juga tumbuh melalui tradisi keilmuan pesantren, pengabdian para ulama, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu diwariskan melalui ilmu dan akhlak, bukan semata-mata melalui keberanian menghadapi lawan. Karena itu, warisan Madura perlu dilihat secara utuh, bukan hanya melalui tindakan segelintir orang yang paling keras atau paling menarik perhatian.

Ketika bulan Maulid tiba, selawat terdengar dari kampung ke kampung. Meski jauh dari Madinah, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tetap hidup dalam keseharian masyarakat. Kecintaan itu tidak hanya terungkap melalui ucapan dan peringatan, tetapi juga semestinya tercermin dalam akhlak, penghormatan kepada sesama, dan cara menyelesaikan persoalan tanpa menzalimi orang lain. Perayaan keagamaan akan semakin bermakna ketika nilai-nilai yang diajarkan turut hadir dalam perilaku sehari-hari.

Keberanian, karena itu, perlu ditempatkan secara proporsional. Keberanian bukan sekadar kesanggupan menghadapi lawan atau mempertaruhkan diri dalam pertentangan. Keberanian juga berarti sanggup menahan diri, mengakui kekeliruan, dan membela kebenaran tanpa kehilangan akal sehat serta tanggung jawab.

Madura tidak kekurangan keberanian, budaya, ataupun tradisi keislaman. Yang perlu dijaga adalah agar semua warisan itu tercermin dalam perilaku yang memuliakan manusia, bukan justru merugikannya. Sebab, kehormatan Madura tidak hanya terletak pada keberanian masyarakatnya, tetapi juga pada keteguhan mereka memegang ilmu, akhlak, dan keadilan.

Bacq jugq: Jejak Sejarah Besar Pamekasan dari Masa Pamelingan hingga Zaman Kemerdekaan

Baca juga: Transformasi Peran Pesantren di Madura Dari Dakwah ke Pemberdayaan Sosial

Baca juga: Gotong Royong sebagai Pilar Kehidupan Sosial Masyarakat Madura

Baca juga: KBRI KL Apresiasi Kontribusi Masyarakat Madura

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *