Ringgit Menguat, Kehidupan PMI di Malaysia Tidak Baik-Baik Saja

Pekerja Migran Indonesia asal Madura di lokasi konstruksi Malaysia menghadapi kesulitan hidup meski nilai ringgit menguat

Oleh: Redaksi MPPM News

Penguatan nilai tukar Ringgit Malaysia dalam dua tahun terakhir kerap dibaca sebagai kabar baik bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja di negeri jiran. Kurs yang terus menguat terhadap Rupiah seolah memberi kesan bahwa bekerja di Malaysia semakin menjanjikan. Angka berbicara lantang: satu ringgit kini bernilai lebih dari empat ribu rupiah, mendekati titik terkuat dalam lebih dari tujuh tahun terakhir.


Namun di balik angka-angka tersebut, terdapat kenyataan yang jauh lebih sunyi. Kehidupan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia terutama yang bekerja di sektor nonformal tidak sedang baik-baik saja.


Di tingkat paling dasar, yang dirasakan para pekerja bukanlah kekuatan mata uang, melainkan ketidakpastian hidup. Ada PMI yang berbulan-bulan tidak bekerja karena proyek berhenti. Ada pula yang masih bekerja, tetapi gajinya tertunda tanpa kejelasan, khususnya di sektor konstruksi dan pekerjaan berbasis kontrak. Tidak sedikit yang bertahan hidup dengan berutang, sambil menunda keinginan pulang kampung karena ongkos pun tak tersedia.

Baca juga: Anak WNI Kelompok Rentan Tak Wajib Lampirkan Surat Kelahiran JPN hingga Akhir April 2026


Mayoritas PMI Indonesia di Malaysia terutama warga Madura bekerja di sektor konstruksi, perkhidmatan, restoran, serta pekerjaan berbasis proyek. Sektor-sektor ini dikenal paling rentan ketika konsumsi melemah dan pelaku usaha menahan ekspansi. Dalam kondisi seperti itu, pekerjaan sering menjadi hal pertama yang dikorbankan. Ringgit yang menguat pun kehilangan maknanya.


Di Madura dikenal istilah laep susah mencari makan. Biasanya istilah ini muncul ketika musim hujan datang, nelayan tak melaut, petani tak ke sawah, dan kehidupan terasa serba sempit. Kini, laep itu dirasakan bukan di kampung halaman, melainkan di tanah perantauan.


Redaksi MPPM News menemui dan berbincang dengan sejumlah PMI asal Madura di Malaysia. Seorang PMI berinisial HM, kontraktor kecil yang biasa menangani pekerjaan skala terbatas, menggambarkan situasi tersebut dengan kalimat sederhana namun menohok.


“Ringgit boleh naik, tapi kalau tidak ada kerja dan gaji tidak jalan, hidup tetap susah.”


HM mengaku sudah berbulan-bulan tidak mendapat proyek. Sementara kebutuhan hidup terus berjalan membayar sewa rumah, memenuhi keperluan harian, mengirim nafkah untuk orang tua dan keluarga di kampung, hingga kewajiban sosial seperti remoh dan koloman.


Cerita serupa datang dari AR, pekerja konstruksi yang hampir enam bulan menganggur sejak proyek terakhir berhenti. MS, yang masih bekerja di sektor perkhidmatan, mengatakan gajinya tertunda hingga berbulan-bulan. FN, pekerja konstruksi yang tinggal di rumah kongsi, mengaku harus berutang untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.


Kesaksian-kesaksian ini memperlihatkan satu benang merah: persoalan utama PMI bukan nilai tukar, melainkan rapuhnya kepastian hidup dan kerja.


Penguatan Ringgit Malaysia sendiri tidak lahir dari ruang hampa. Kebijakan suku bunga yang relatif tinggi dan stabil mendorong aliran modal masuk ke Malaysia, memperkuat mata uang di pasar keuangan. Namun penguatan yang ditopang oleh aliran dana finansial tidak selalu berarti ekonomi rakyat bergerak lebih hidup.


Dalam situasi ketidakpastian global, banyak pelaku usaha memilih bersikap wait and see. Pengeluaran ditahan, proyek baru ditunda, dan arus kas dijaga seketat mungkin. Uang memang masuk ke sistem keuangan, tetapi peredarannya di tingkat masyarakat melambat. Sektor riil bergerak hati-hati, dan pekerja tidak tetap menjadi kelompok pertama yang merasakan dampaknya.


Bagi PMI sektor nonformal, kondisi ini terasa sangat nyata. Ketika proyek ditahan dan belanja masyarakat melemah, pekerjaan menyusut. Ketika pekerjaan menyusut, penghasilan terhenti. Dan ketika penghasilan terhenti, kurs setinggi apa pun tak mampu menenangkan hari-hari mereka.


Tekanan ekonomi ini juga merembet ke kehidupan sosial. Kegiatan keagamaan dan kebersamaan warga Madura di Malaysia yang dahulu ramai kini terasa lebih sepi. Bukan karena berkurangnya semangat, melainkan karena banyak orang sedang berjuang sekadar untuk bertahan. Seorang tokoh masyarakat Madura di Malaysia menuturkan kepada Redaksi MPPM News bahwa kini orang datang ke majelis bukan lagi dengan kelapangan, melainkan dengan sisa tenaga setelah seharian memikirkan hidup.


Penguatan Ringgit Malaysia adalah fakta ekonomi yang tak terbantahkan. Namun artikel ini ingin menegaskan satu hal sederhana: kekuatan mata uang tidak selalu berarti kekuatan kehidupan. Bagi PMI, kesejahteraan tidak diukur dari grafik kurs, melainkan dari ada atau tidaknya pekerjaan, dari dibayar atau tidaknya upah, serta dari kemampuan memenuhi kebutuhan paling dasar.


Selama ekonomi di tingkat bawah bergerak tertahan, selama proyek ditunda dan upah tak kunjung pasti, ringgit yang kuat akan tetap menjadi angka. Opini ini hadir bukan untuk menafikan data ekonomi makro, melainkan untuk menghadirkan suara yang kerap luput suara para pekerja migran yang bertahan di tengah ketidakpastian, jauh dari gemerlap statistik, namun sangat dekat dengan kenyataan hidup.

Baca juga: Suramadu dan Ekonomi Madura: Konektivitas Tanpa Transformasi

Baca juga: Madura Darurat Begal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *