Oleh: Abdul Kholik, Sekretaris Jenderal MPPM
Pada Sabtu, 28 Maret 2026, bertepatan dengan 8 Syawal 1447 Hijriah, masyarakat Madura kembali merayakan Tellasan Pettok, sebuah tradisi yang tetap hidup dan selalu dinanti setiap tahun. Di sebagian daerah, tradisi ini juga dikenal sebagai Lebaran Ketupat.
Tradisi ini dilaksanakan pada hari kedelapan bulan Syawal, setelah umat Islam menunaikan puasa sunah enam hari Syawal. Dalam bahasa Madura, kata petto’ atau pettok berarti “tujuh”, sehingga Tellasan Pettok secara harfiah dimaknai sebagai “lebaran ketujuh”.
Bagi masyarakat Madura, Tellasan Pettok bukan sekadar penutup rangkaian Idulfitri. Tradisi ini telah menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Madura karena mengandung nilai kebersamaan, silaturahmi, gotong royong, dan penghormatan terhadap keluarga.
Di banyak kampung di Bangkalan, Sampang, Pamekasan, maupun Sumenep, suasana Tellasan Pettok sering kali tidak kalah meriah dibandingkan Hari Raya Idulfitri. Bahkan bagi sebagian keluarga, inilah momen ketika seluruh anggota keluarga benar-benar dapat berkumpul setelah kesibukan Idulfitri mulai berkurang.
Tellasan Pettok memiliki kaitan yang erat dengan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Dalam tradisi masyarakat Madura, seseorang di anggap sempurna menyambut Tellasan Pettok apabila telah menunaikan puasa enam hari terlebih dahulu.
Baca juga: Ketua Umum MPPM ajak perkuat persaudaraan dan solidaritas di perantauan pada Idul Fitri 1447 H
Karena itu, Tellasan Pettok baru dirayakan pada tanggal 8 Syawal. Hari pertama Syawal dihitung sebagai Hari Raya Idulfitri, kemudian enam hari berikutnya digunakan untuk berpuasa. Setelah itu, masyarakat menyambut hari kedelapan sebagai hari kemenangan kedua.
Tidak mengherankan apabila Tellasan Pettok sering disebut sebagai “lebaran kedua” orang Madura. Jika Idulfitri identik dengan saling bermaafan setelah Ramadan, maka Tellasan Pettok menjadi momen untuk memperkuat kembali hubungan yang telah terjalin.
Dalam kehidupan masyarakat Madura, hubungan keluarga besar memiliki posisi yang sangat penting. Karena itulah, tradisi ini bukan hanya dirayakan di dalam rumah, tetapi juga melibatkan tetangga, kerabat jauh, bahkan seluruh kampung.
Suasana Tellasan Pettok biasanya sudah terasa sejak sehari sebelumnya. Di sore hari, para ibu mulai menganyam janur menjadi ketupat. Aktivitas ini menjadi pemandangan khas yang hampir selalu ada di setiap rumah.
Ketupat yang telah selesai dianyam kemudian direbus selama beberapa jam hingga matang. Sementara itu, anggota keluarga lain sibuk menyiapkan lauk-pauk yang akan disajikan keesokan harinya.
Hidangan Tellasan Pettok umumnya terdiri dari ketupat, kua adun, opor ayam, daging sapi bumbu santan, serundeng, sambal goreng, telur balado, serta aneka kerupuk dan kue tradisional.
Di antara semua hidangan tersebut, yang paling khas adalah kua adun. Masakan ini berupa kuah santan berwarna kemerahan dengan rasa gurih dan sedikit pedas. Biasanya menggunakan daging ayam kampung atau daging sapi.
Setiap daerah di Madura memiliki sedikit perbedaan dalam cita rasa dan jenis lauk yang disajikan. Namun ketupat tetap menjadi sajian utama yang tidak pernah ditinggalkan.
Salah satu bagian paling penting dalam Tellasan Pettok adalah tradisi ter-ater, yaitu saling mengantar makanan kepada tetangga, kerabat, dan keluarga.
Sejak pagi hari, masyarakat akan membawa ketupat dan lauk-pauk ke rumah sanak saudara. Sebagian menggunakan nampan, rantang, atau baskom besar yang ditutup dengan kain.
Wadah yang dibawa hampir tidak pernah pulang dalam keadaan kosong. Tuan rumah biasanya akan membalas dengan makanan lain, sehingga terjadi saling berbagi di antara warga.
Tradisi ter-ater memiliki makna sosial yang sangat dalam. Bukan semata-mata soal makanan, melainkan tentang menjaga hubungan baik antarsesama. Dalam masyarakat Madura, seseorang dianggap belum lengkap merayakan Tellasan Pettok apabila belum sempat mengunjungi keluarga dan tetangga.
Tradisi ini juga menjadi cara sederhana untuk memperkuat rasa kebersamaan. Di tengah kehidupan modern yang semakin individual, ter-ater mengajarkan bahwa hubungan sosial harus dirawat dengan saling memberi, saling mengunjungi, dan saling mengingat.
Bagi anak-anak, Tellasan Pettok adalah salah satu hari yang paling menyenangkan. Sejak pagi mereka mengenakan pakaian terbaik, lalu ikut bersama orang tua berkeliling dari rumah ke rumah.
Di sejumlah daerah di Madura, anak-anak bahkan membawa nasi dan lauk dalam wadah besar di atas kepala. Tradisi ini dikenal dengan sebutan nyo’on. Mereka berjalan beramai-ramai menuju rumah keluarga atau tetangga sambil membawa makanan.
Setelah tiba, makanan tersebut diserahkan kepada tuan rumah. Sebagai balasan, wadah yang dibawa akan diisi kembali dengan ketupat, lauk, kue, atau kadang-kadang uang kecil.
Karena itu, suasana Tellasan Pettok selalu dipenuhi tawa anak-anak. Bagi banyak orang Madura, kenangan masa kecil tentang membawa ketupat keliling kampung menjadi salah satu kenangan yang paling melekat hingga dewasa.
Ketupat bukan sekadar makanan dalam tradisi Tellasan Pettok. Bagi masyarakat Madura, ketupat memiliki makna simbolis yang kuat.
Anyaman janur yang saling terkait menggambarkan eratnya hubungan antarsesama. Tidak ada satu helai janur pun yang dapat membentuk ketupat sendirian. Semua harus saling terhubung agar menjadi bentuk yang utuh.
Makna tersebut sejalan dengan kehidupan masyarakat Madura yang menempatkan persaudaraan dan kekeluargaan sebagai nilai utama.
Isi ketupat yang berwarna putih juga melambangkan hati yang bersih setelah menjalani Ramadan dan puasa Syawal. Karena itu, Tellasan Pettok dipahami sebagai momen untuk membuka lembaran baru, memperbaiki hubungan, dan saling memaafkan.
Sebagian tokoh budaya juga mengaitkan tradisi ketupat dengan dakwah Islam di Nusantara, khususnya pada masa Sunan Kalijaga. Ketupat dipandang sebagai simbol pengakuan atas kesalahan dan ajakan untuk mempererat hubungan sesama manusia.
Di era modern, Tellasan Pettok tetap bertahan meskipun pola kehidupan masyarakat telah berubah. Di kota-kota besar, sebagian orang mungkin tidak lagi sempat berkeliling kampung seperti dahulu. Namun semangat tradisinya masih tetap hidup.
Kini banyak keluarga yang merayakannya dengan berkumpul di rumah orang tua, membuat ketupat bersama, lalu mengirim makanan kepada kerabat. Bahkan di kalangan masyarakat Madura yang tinggal di perantauan, Tellasan Pettok tetap dirayakan sebagai bentuk kerinduan terhadap kampung halaman.
Bagi masyarakat Madura di Malaysia, termasuk keluarga besar MPPM, tradisi ini memiliki makna yang semakin penting. Jarak yang jauh dari tanah kelahiran justru membuat nilai persaudaraan menjadi lebih terasa.
Melalui kegiatan berkumpul, saling mengunjungi, berbagi makanan, dan menjaga komunikasi antarsesama warga Madura di perantauan, semangat Tellasan Pettok dapat terus hidup meskipun berada jauh dari Pulau Madura.
Tradisi ini mengingatkan bahwa kebersamaan tidak ditentukan oleh tempat, melainkan oleh keinginan untuk tetap menjaga hubungan.
Tellasan Pettok bukan hanya sebuah tradisi tahunan, melainkan warisan budaya yang memiliki nilai luhur. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang pentingnya keluarga, kepedulian terhadap tetangga, dan semangat berbagi.
Di tengah dunia yang semakin sibuk dan individual, tradisi seperti ini justru menjadi semakin penting untuk dipertahankan. Anak-anak perlu mengenal bahwa budaya Madura tidak hanya kaya dalam bahasa dan kesenian, tetapi juga kaya dalam nilai kemanusiaan.
Karena itu, menjaga Tellasan Pettok berarti menjaga jati diri masyarakat Madura itu sendiri. Selama masih ada ketupat yang dibagikan, masih ada rumah yang saling dikunjungi, dan masih ada tangan yang terbuka untuk menyambut keluarga serta tetangga, selama itu pula semangat persaudaraan masyarakat Madura akan tetap hidup.
Tellasan Pettok mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak hanya dirasakan sendiri, tetapi menjadi lebih bermakna ketika dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan sesama.
Baca juga: Malaysia Tetapkan Hari Raya Aidilfitri 1447H pada Sabtu, 21 Maret 2026
Baca juga: MPPM Gelar Buka Puasa Bersama, Peringatan Nuzulul Qur’an dan Santunan Anak Yatim di Kajang
