Bagian 4 dari 14 Serial Historiografi Politik Dunia Islam
Oleh Abdul Kholik
Ketika Husain bin Ali gugur dalam Tragedi Karbala pada tahun 680 M, Dinasti Umayyah sebenarnya belum sepenuhnya aman. Peristiwa itu memang memperkuat posisi politik Khalifah Yazid bin Muawiyah untuk sementara waktu, tetapi sekaligus meninggalkan luka politik dan moral yang terus membayangi legitimasi kekuasaan Umayyah selama puluhan tahun berikutnya.
Karbala bukan sekadar tragedi keluarga dalam sejarah Islam. Peristiwa itu menjadi simbol awal dari krisis legitimasi yang terus membayangi Dinasti Umayyah sepanjang masa kekuasaannya. Sejak saat itu, dunia Islam memasuki fase baru: dari konflik internal pasca-wafat Nabi menuju pembentukan salah satu imperium terbesar dalam sejarah awal Islam.
Berbeda dengan era Khulafaur Rasyidin yang masih berpusat di Madinah, Dinasti Umayyah membangun pemerintahan yang jauh lebih imperial dari Damaskus. Kota di wilayah Syam itu sejak lama berada di bawah pengaruh administrasi Bizantium dan memiliki tradisi birokrasi, militer, serta perdagangan internasional yang jauh lebih matang dibanding Hijaz.
Perpindahan pusat kekuasaan dari Madinah ke Damaskus bukan sekadar perpindahan ibu kota. Peristiwa itu menandai transformasi besar dalam sejarah Islam: dunia Muslim mulai bergerak dari komunitas religius Arab menuju negara imperium lintas benua.
Baca jufa: Dari Hasan ke Karbala: Lahirnya Monarki Dunia Islam
Di tangan Umayyah, dunia Islam perlahan berubah dari koalisi ekspansi Arab awal menjadi negara imperium yang semakin terorganisasi. Administrasi diperkuat, sistem pajak diperluas, militer dipusatkan, dan jalur komunikasi antarprovinsi mulai dikendalikan lebih ketat. Stabilitas politik tidak lagi bertumpu pada kedekatan dengan generasi sahabat Nabi, melainkan pada kemampuan mengelola wilayah yang membentang ribuan kilometer.
Meski terus menghadapi oposisi dari Irak dan kelompok pendukung Ahlul Bait, Dinasti Umayyah tetap mampu mempertahankan kekuasaan melalui kombinasi kekuatan militer, sentralisasi administrasi, dan loyalitas elite Syam. Dalam banyak hal, Syam menjadi tulang punggung utama negara Umayyah.
Transformasi terbesar terjadi pada masa Abdul Malik bin Marwan yang memerintah antara 685–705 M. Setelah berhasil mengakhiri Perang Saudara Islam Kedua pada tahun 692 M, Abdul Malik mulai membangun identitas imperium yang lebih terpusat dan semakin berorientasi pada identitas Arab.
Pada dekade 690-an, bahasa Arab dijadikan bahasa administrasi resmi menggantikan Yunani di wilayah Syam dan Mesir serta Persia di Irak dan kawasan timur. Reformasi ini menjadi salah satu tonggak paling penting dalam sejarah politik Islam karena untuk pertama kalinya kekhalifahan memiliki sistem administrasi terpadu lintas kawasan.
Pada periode yang sama, Dinasti Umayyah mulai mencetak mata uang sendiri tanpa simbol Bizantium maupun Sassaniyah. Reformasi moneter tersebut menandai lahirnya identitas politik dan ekonomi Islam yang semakin independen dari pengaruh dua kekuatan besar lama.
Pada tahun 691–692 M, Abdul Malik juga membangun Kubah Shakhrah di Yerusalem. Bangunan monumental itu bukan hanya simbol religius, tetapi juga pernyataan politik bahwa dunia Islam kini tampil sebagai kekuatan besar baru di hadapan Bizantium.
Langkah-langkah Abdul Malik bukan sekadar reformasi administratif. Ia sedang membangun fondasi dunia Arab-Islam global. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, bahasa Arab berkembang menjadi bahasa resmi pemerintahan, perdagangan, diplomasi, dan politik lintas kawasan dari Mesir hingga Persia.
Di bawah Umayyah, dunia Islam berkembang menjadi kekuatan imperium lintas kawasan yang semakin terorganisasi.
Setelah stabilitas internal relatif pulih, ekspansi kembali bergerak sangat cepat. Pada masa Al-Walid bin Abdul Malik yang memerintah antara 705–715 M, pasukan Muslim meluas ke Afrika Utara, Asia Tengah, hingga mencapai perbatasan India.
Dalam waktu singkat, kekuasaan Umayyah membentang dari Semenanjung Iberia di barat hingga Transoxiana di timur.
Pada tahun 711 M, pasukan Muslim menyeberangi Selat Gibraltar di bawah komando Thariq bin Ziyad dan memasuki Andalusia setelah runtuhnya Kerajaan Visigoth. Penaklukan ini menjadi salah satu titik paling menentukan dalam sejarah dunia Islam karena untuk pertama kalinya kekuasaan Muslim masuk jauh ke wilayah Eropa Barat.
Namun ekspansi ke Andalusia bukan hanya persoalan militer. Wilayah itu kemudian berkembang menjadi salah satu pusat peradaban Islam terbesar dalam sejarah, tempat ilmu pengetahuan, filsafat, perdagangan, kedokteran, dan kebudayaan tumbuh melintasi batas agama maupun etnis.
Di timur, ekspansi bergerak melewati Persia menuju Asia Tengah. Kota-kota seperti Bukhara dan Samarkand mulai masuk ke dalam jaringan dunia Islam. Jalur perdagangan Eurasia perlahan terhubung dengan pusat-pusat kekuasaan Arab di Damaskus.
Dalam waktu kurang dari satu abad sejak wafat Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, dunia Islam telah berkembang menjadi salah satu imperium terbesar di muka bumi. Wilayahnya membentang dari Jazirah Arab, Persia, dan Afrika Utara hingga Asia Tengah dan sebagian Eropa Barat.
Dunia lama yang selama berabad-abad didominasi Bizantium dan Persia kini menghadapi kekuatan baru yang tumbuh dari Jazirah Arab.
Namun keberhasilan ekspansi Umayyah juga membawa kontradiksi besar di dalam tubuh imperium itu sendiri.
Dinasti Umayyah dibangun di atas dominasi elite Arab, terutama aristokrasi Quraisy dan jaringan militer Syam. Arabisasi administrasi memang memperkuat integrasi imperium, tetapi pada saat yang sama juga mempertegas posisi elite Arab di atas kelompok Muslim non-Arab.
Di sinilah muncul ketegangan besar antara identitas Arab dan universalitas Islam.
Dunia Islam yang terus meluas tidak lagi hanya dihuni orang Arab. Persia, Berber, Aram, Koptik, dan berbagai kelompok non-Arab lain mulai masuk Islam dalam jumlah besar. Namun kelompok Muslim non-Arab yang dikenal sebagai mawali sering kali tidak memperoleh posisi sosial dan politik yang setara dengan elite Arab.
Di banyak wilayah, aristokrasi Arab tetap mendominasi militer, administrasi, dan distribusi kekayaan imperium. Akibatnya, sebagian mawali mulai memandang Umayyah bukan hanya sebagai kekhalifahan Islam, tetapi juga sebagai imperium Arab yang terlalu mengutamakan elite tertentu.
Ketegangan ini terasa paling kuat di Persia dan Khurasan. Wilayah timur yang jauh dari Damaskus itu justru menjadi pusat pertumbuhan Muslim non-Arab yang sangat besar. Di sana, ketidakpuasan terhadap dominasi elite Arab perlahan berkembang menjadi gerakan politik yang semakin terorganisasi.
Di Afrika Utara, persoalan serupa juga muncul. Dalam Pemberontakan Besar Berber pada 739–743 M, berbagai kelompok Berber Muslim bangkit melawan dominasi elite Arab Umayyah karena merasa diperlakukan tidak setara dalam struktur politik dan ekonomi imperium.
Sementara di Irak, oposisi terhadap Damaskus terus hidup melalui berbagai kelompok politik — mulai dari pendukung keluarga Ali, kelompok Khawarij, hingga berbagai faksi anti-Umayyah lainnya.
Semakin luas imperium Umayyah, semakin sulit pula menjaga keseimbangan antara identitas Arab dan universalitas Islam.
Di balik kemegahan ekspansi global, Dinasti Umayyah sebenarnya terus menghadapi krisis legitimasi. Sebagian Muslim masih memandang keluarga Umayyah sebagai dinasti yang lahir dari perang saudara, bukan dari konsensus umat sebagaimana era awal Islam.
Krisis itu semakin rumit karena oposisi terhadap Umayyah datang dari banyak arah sekaligus. Pendukung Ahlul Bait menolak legitimasi moral mereka. Kelompok Khawarij menolak sistem dinasti secara keseluruhan. Sementara banyak mawali Persia semakin kecewa terhadap dominasi aristokrasi Arab.
Namun justru dari kontradiksi inilah dunia Islam mengalami transformasi besar. Umayyah bukan hanya memperluas wilayah kekuasaan Muslim, tetapi juga membangun fondasi tatanan dunia Islam baru yang pengaruhnya bertahan selama berabad-abad.
Bahasa Arab berkembang menjadi bahasa administrasi, perdagangan, diplomasi, dan ilmu pengetahuan lintas kawasan. Kota-kota baru tumbuh sebagai pusat ekonomi internasional. Jalur perdagangan dari Laut Tengah hingga Asia Tengah mulai terhubung dalam satu sistem imperium besar.
Damaskus kini menjadi pusat politik dunia Islam, sementara Madinah perlahan berubah menjadi simbol religius generasi awal Muslim. Pergeseran ini memperlihatkan bahwa dunia Islam telah bergerak sepenuhnya memasuki era imperium lintas kawasan.
Namun ekspansi dan Arabisasi yang menjadi kekuatan utama Umayyah pada saat yang sama juga melahirkan retakan di dalam fondasi kekuasaan mereka sendiri. Dinasti yang berhasil membangun dunia Arab global itu perlahan menghadapi oposisi dari kelompok-kelompok yang justru tumbuh di dalam imperiumnya sendiri.
Di Khurasan, wilayah timur yang jauh dari Damaskus, ketidakpuasan mawali Persia dan oposisi anti-Umayyah berkembang menjadi gerakan revolusioner yang semakin terorganisasi. Pada dekade 740-an, gerakan Abbasiyah mulai membangun jaringan politik rahasia di wilayah ini dengan memanfaatkan kekecewaan kelompok non-Arab terhadap dominasi elite Umayyah.
Pada pertengahan abad ke-8, dunia Islam kembali berada di ambang perubahan besar. Imperium Umayyah tampak begitu kuat di permukaan, tetapi retakan politik dan sosial mulai tumbuh dari dalam tubuhnya sendiri.
Dari krisis yang tumbuh di dalam imperium Umayyah itulah kemudian lahir Revolusi Abbasiyah pada tahun 750 M — sebuah perubahan besar yang mengakhiri dominasi Dinasti Umayyah di pusat dunia Islam dan membawa peradaban Islam memasuki era Persia-Islam yang jauh lebih kosmopolitan, intelektual, dan kompleks. Imperium Arab yang dibangun Umayyah akhirnya tidak runtuh oleh serangan dari luar, melainkan oleh kontradiksi yang tumbuh di dalam fondasinya sendiri.
Baca juga: Darah di Madinah
Baca jufa: Ketika Quraisy Menjadi Negara
