Surabaya | MPPM NEWS — Puluhan ulama Madura yang tergabung dalam Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura (BASSRA) menggelar Halal Bihalal dan bedah buku “Sejarah BASSRA: Potret Perjuangan Ulama Madura” di Kantor PLN UID Jawa Timur, Jalan Embong Trengguli, Surabaya, Jumat (10/4/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Prof. Dr. KH Imam Ghazali Said, Dr. KH Muhamad Aunul Abied Shah, Lc., M.A., Dr. Adam Muhshi, S.H., S.A.P., serta General Manager PLN UID Jawa Timur Ahmad Mustaqir. Acara dipandu oleh Sekretaris Koordinator Pusat BASSRA, RKH Syafik Rofii.
Sejumlah tokoh ulama dari Madura dan Surabaya turut hadir, di antaranya H. Ahmad Zaini, M.A., Nyai Nur Fitriana Busyro, H. Muhdhor Abdullah, KH A. Sufyan ABSI, KH Muchlis Nasir, KH Makki Nasir, KH Abdullah Mu’ad, M.Sy., KH Mundir Rofii, Dr. KH Sholehuddin, Prof. Dr. Hj. Siti Marwiyah, KH Mas’ud Adnan, KH Ja’far Shodiq, KH Fauzi Tijani, KH Syamsul Arifin, serta sejumlah ulama lainnya.
Dalam forum tersebut, BASSRA mengingatkan masyarakat Madura agar tidak mudah terprovokasi oleh berbagai informasi dan perdebatan di media sosial, terutama terkait kembali menguatnya wacana pembentukan Provinsi Madura.
Baca juga: MPPM Protes Pernyataan Politikus PKS soal Ulama dan Pesantren Madura
Sekretaris Koordinator Pusat BASSRA, KH Syafik Rofii, menegaskan bahwa media sosial seharusnya digunakan untuk memperkuat persatuan dan mendorong kemajuan Madura, bukan menjadi ruang saling menyerang dan memecah belah masyarakat.
Menurutnya, cita-cita masyarakat Madura sesungguhnya bukan sekadar memperdebatkan status administratif, melainkan bagaimana Madura dapat berkembang melalui pemerataan ekonomi dan pembangunan.
“Banyak hal yang seharusnya dapat dilakukan dengan media sosial. Media sosial mestinya dipakai untuk menyatukan kekuatan masyarakat Madura, bukan justru menjadi ruang pertengkaran dan saling menyerang,” ujarnya.
BASSRA menilai bahwa agenda yang lebih penting bagi Madura saat ini ialah mendorong pembangunan dan peningkatan ekonomi masyarakat, termasuk memperjuangkan terbentuknya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Madura.
Dalam kesempatan yang sama, Dr. KH Muhamad Aunul Abied Shah menjelaskan bahwa gagasan pembentukan Provinsi Madura dapat dibahas secara ilmiah dan konstitusional. Namun ia mengingatkan agar isu tersebut tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan politik yang justru memecah belah masyarakat.
“Jangan sampai pengusulan Madura menjadi provinsi dimanfaatkan oleh segelintir orang yang mempunyai kepentingan. Yang terpenting adalah bagaimana kita bersama-sama membangun Madura menjadi lebih baik,” tegasnya.
Ia meminta masyarakat tidak hanya terjebak pada pro dan kontra, tetapi juga melihat tujuan yang lebih besar, yakni memperjuangkan kesejahteraan dan kemajuan Madura.
Sementara itu, Prof. Dr. KH Imam Ghazali Said menilai BASSRA harus lebih responsif dan berkelanjutan dalam mengawal persoalan umat Madura. Menurutnya, BASSRA tidak cukup hanya hadir ketika ada polemik atau isu besar.
Ia berharap BASSRA terus menjadi wadah pemersatu ulama dan masyarakat Madura, sekaligus aktif memberikan arah dan solusi terhadap persoalan sosial, pendidikan, ekonomi, dan keumatan.
Prof. Imam Ghazali Said juga menekankan pentingnya mendokumentasikan sejarah perjuangan ulama Madura. Menurutnya, banyak jasa dan perjuangan para ulama yang belum ditulis dan berpotensi hilang jika tidak segera didokumentasikan.
Karena itu, bedah buku “Sejarah BASSRA: Potret Perjuangan Ulama Madura” dinilai penting bukan hanya sebagai kegiatan seremonial, tetapi juga sebagai upaya menjaga ingatan kolektif masyarakat Madura terhadap peran ulama dalam pembangunan daerah.
Dalam forum itu, H. Ahmad Zaini, M.A. yang selama ini dikenal aktif memperjuangkan pembentukan Provinsi Madura, juga mengajak para ulama untuk terus bersatu memperjuangkan aspirasi masyarakat Madura melalui jalur yang damai, konstitusional, dan tidak menimbulkan perpecahan.
BASSRA sendiri merupakan forum silaturahmi ulama dan pesantren dari empat kabupaten di Madura yang berdiri pada 1 November 1992 di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep.
Organisasi ini didirikan oleh sejumlah ulama Madura, antara lain KH Abdullah Schal, KH Kholil AG dari Bangkalan, KH M. Dhovier Shah, KH Madzkur Rosyad dari Sampang, KH M. Mudatsir Badruddin, KH M. Rofii Baidlowi dari Pamekasan, KH M. Tidjani Jauhari, KH Mahfudz Husaini dari Sumenep, serta para ulama sepuh lainnya.
Sejak berdiri, BASSRA konsisten hadir dalam berbagai persoalan masyarakat Madura, terutama di bidang pembangunan, pendidikan pesantren, sosial, dan keumatan.
Saat ini BASSRA dipimpin oleh RKH Mohammad Rofi’i Baidhowi sebagai Ketua Umum Koordinator Pusat BASSRA. Adapun jabatan Sekretaris Koordinator Pusat BASSRA dijabat oleh RKH Syafik Rofii.
Baca juga: Akhirnya Minta Maaf, Aboe Bakar Akui Ucapannya Lukai Ulama dan Masyarakat Madura
