Oleh Redaksi MPPMNEWS.ID
Minggu pagi, 5 Juli 2026, masyarakat Madura dari berbagai penjuru Malaysia berkumpul di Kantor Majlis Persatuan dan Persaudaraan Masyarakat (MPPM) di Kajang, Selangor. Mereka menggelar koloman, tradisi yang telah diwariskan turun-temurun dan tetap hidup di tengah kehidupan perantauan. Tahlil, shalawat, dan doa bersama yang dipanjatkan pagi itu menjadi penanda bahwa jarak ribuan kilometer dari Pulau Madura tidak pernah memutus ikatan budaya dan persaudaraan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi masyarakat Madura, koloman bukanlah pertemuan yang lahir karena kebutuhan sesaat. Tradisi ini telah tumbuh bersama kehidupan masyarakat selama bergenerasi dan menjadi bagian dari cara mereka memelihara hubungan dengan Allah SWT sekaligus menjaga ikatan antarsesama. Dari desa-desa di Pulau Madura hingga komunitas perantau di Malaysia, koloman terus hadir sebagai pengikat silaturahmi yang melampaui batas tempat dan waktu.
Di berbagai daerah di Madura, koloman telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Pelaksanaannya memang berbeda-beda sesuai kebiasaan setempat. Ada yang berlangsung di rumah warga, musala, masjid, maupun lingkungan pesantren. Namun semangat yang dibawanya tetap sama, yakni mempertemukan masyarakat dalam doa bersama, mempererat hubungan kekeluargaan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Baca juga: Transformasi Peran Pesantren di Madura Dari Dakwah ke Pemberdayaan Sosial
Kehidupan masyarakat Madura yang lekat dengan pesantren menjadi salah satu akar kuat lahirnya tradisi tersebut. Pesantren selama ini tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga membentuk cara hidup masyarakat. Hubungan antara kiai, santri, alumni, dan warga terus terpelihara dalam berbagai aktivitas keagamaan yang kemudian berkembang menjadi budaya. Dari lingkungan itulah koloman tumbuh, hidup, lalu menyatu dengan kehidupan masyarakat.
Seiring perjalanan waktu, koloman tidak lagi dipahami sebagai tradisi milik satu pesantren atau satu kelompok tertentu. Ia berkembang menjadi warisan budaya masyarakat Madura. Siapa pun dapat hadir, duduk bersama, dan memanjatkan doa dalam suasana penuh kekeluargaan. Kebersamaan itulah yang membuat koloman tetap bertahan dan terus diwariskan.
Warisan itu ikut dibawa ketika masyarakat Madura merantau ke Malaysia. Mereka datang dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik, tetapi tidak meninggalkan kebiasaan yang telah membentuk jati diri mereka sejak kecil. Di tengah kesibukan bekerja, koloman tetap dihidupkan sebagai cara menjaga silaturahmi sekaligus mengobati kerinduan pada kampung halaman.
Barangkali itulah sebabnya koloman tetap bertahan hingga hari ini. Jarak memang memisahkan masyarakat Madura dari tanah kelahirannya, tetapi tidak mampu memutus ikatan yang dibangun melalui tradisi tersebut. Setiap kali majelis digelar, para perantau kembali dipertemukan dalam suasana yang akrab. Mereka saling mendoakan, saling menguatkan, dan memelihara rasa memiliki sebagai satu keluarga besar.
Koloman yang berlangsung di Kantor MPPM pagi itu merupakan kegiatan rutin Komunitas Pesantrenan yang terdiri atas Perkumpulan Santri, Alumni, dan Simpatisan Al-Hamidy Banyuanyar (PERSABA) bersama Majlis Ta’lim Mutahabbina Fillah. Kegiatan ini dilaksanakan secara bergilir setiap dua pekan sebagai wadah mempererat ukhuwah di kalangan santri, alumni, simpatisan, dan masyarakat Madura yang menetap di Malaysia.
Ketua PERSABA, Ust. Abdul Kholik, mengajak seluruh masyarakat Madura di Malaysia untuk terus menjaga tradisi yang telah diwariskan para ulama.
“Kalau kita mulai jarang berkumpul, lama-kelamaan tradisi ini bisa memudar. Karena itu mari saling mengajak. Jangan menunggu diundang. Koloman sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Madura sejak dahulu. Di sinilah silaturahmi terjalin dan kebersamaan terus dipelihara.”
Ia berharap semangat menghadiri koloman terus tumbuh sehingga generasi berikutnya tetap mengenal dan mencintai warisan budaya tersebut.

Ketua Majlis Ta’lim Mutahabbina Fillah, H. Marjudin, juga mengajak masyarakat Madura di Malaysia untuk terus meramaikan koloman sebagai ikhtiar mempererat ukhuwah.
“Di perantauan, kebersamaan itu sangat penting. Lewat koloman kita saling bertemu, saling mendoakan, dan saling menguatkan. Semoga semakin banyak saudara-saudara kita yang hadir agar tradisi ini terus hidup.”
Menurutnya, tradisi akan tetap lestari apabila dirawat bersama, bukan hanya oleh pengurus komunitas, tetapi juga oleh seluruh masyarakat Madura yang berada di negeri rantau.
Koloman yang terus dilaksanakan juga memperlihatkan eratnya hubungan antarkomunitas masyarakat Madura di Malaysia. Berbagai kegiatan keagamaan, sosial, pendidikan, perlindungan masyarakat, dan kemanusiaan terus dibangun melalui koordinasi Persatuan Permuafakatan Masyarakat Madura Malaysia (PPMM), sementara Kantor MPPM di Kajang menjadi salah satu titik temu berbagai komunitas dalam menyelenggarakan kegiatan bersama.
Menjelang siang, majelis pun usai. Para jamaah bersalaman sebelum kembali ke tempat kerja dan kediaman masing-masing yang tersebar di berbagai wilayah Malaysia. Ruangan kembali tenang. Namun kebersamaan yang terjalin pagi itu tetap mereka bawa pulang. Sejauh apa pun masyarakat Madura merantau, koloman akan terus hidup selama masih ada orang-orang yang bersedia berkumpul, saling mendoakan, dan merawat warisan yang telah menyatukan mereka dari generasi ke generasi.
Baca juga: Koloman, Tradisi Silaturahim Masyarakat Madura yang Terus Terjaga di Perantauan
