Bagian 6 dari 14 Serial Historiografi Politik Dunia Islam
Oleh Abdul Kholik
Kejayaan Abbasiyah pada abad ke-8 M menjadikan Baghdad pusat politik dan intelektual terbesar dunia Islam. Tetapi di balik kemegahan itu, persoalan yang membayangi sejarah Islam sejak wafat Nabi Muhammad SAW belum pernah benar-benar selesai: siapa yang paling berhak memimpin umat?
Abbasiyah menggulingkan Umayyah dengan dukungan mawali Persia, oposisi Irak, dan berbagai kelompok yang kecewa terhadap Damaskus. Dalam revolusinya, mereka juga memanfaatkan sentimen kedekatan dengan keluarga Nabi untuk menghimpun dukungan luas.
Namun sesudah berkuasa, Abbasiyah membangun dinasti baru yang tidak selalu sejalan dengan harapan para pendukung Ahlul Bait.
Kemenangan Abbasiyah justru membuka babak baru perebutan legitimasi politik dalam dunia Islam.
Baca juga: Abbasiyah dan Runtuhnya Umayyah
Bagi banyak kelompok Syiah awal, Abbasiyah dianggap hanya mengganti elite penguasa tanpa menyerahkan kepemimpinan kepada keturunan Ali dan Fatimah. Dari kekecewaan itu lahir berbagai gerakan yang terus menantang Baghdad dari pinggiran dunia Islam.
Dalam politik Islam abad pertengahan, nasab Ahlul Bait memiliki kekuatan simbolik yang sangat besar. Hubungan dengan keluarga Rasulullah dapat menjadi sumber legitimasi yang mampu menyaingi bahkan mengguncang otoritas kekhalifahan.
Salah satu tokoh penting dalam gelombang perlawanan itu ialah Idris bin Abdullah, keturunan Hasan bin Ali yang lolos dari pengejaran Abbasiyah setelah kegagalan pemberontakan anti-pemerintah di Hijaz pada akhir abad ke-8 M.
Idris bergerak ke Maghrib atau Afrika Utara bagian barat, kawasan yang saat itu masih jauh dari kontrol efektif Baghdad. Di wilayah tersebut, ia memperoleh dukungan dari suku-suku Berber yang sejak lama memiliki ketegangan dengan pemerintahan pusat di Timur.
Pada akhir abad ke-8 M, berdirilah Dinasti Idrisiyah di wilayah Maroko modern.
Kemunculan Idrisiyah menjadi peristiwa penting dalam sejarah politik Islam. Untuk pertama kalinya, keturunan Nabi berhasil membangun kekuasaan yang relatif mandiri dari Baghdad.
Peristiwa itu memperlihatkan bahwa otoritas Abbasiyah mulai menghadapi keterbatasan dalam mengendalikan wilayah Islam yang semakin luas. Dari pinggiran dunia Muslim, pusat-pusat legitimasi baru mulai tumbuh dengan membawa nama keluarga Rasulullah.
Dari Maghrib hingga Persia, persoalan tentang siapa pewaris sah kepemimpinan Islam berkembang menjadi pertarungan politik yang semakin rumit.
Pada saat yang sama, tradisi Syiah berkembang ke dalam berbagai cabang. Perbedaan pandangan mengenai garis keturunan imam dan konsep imamah melahirkan kelompok-kelompok dengan orientasi politik dan teologi yang berbeda.
Dari dinamika inilah muncul Ismailiyah, salah satu cabang Syiah yang kelak memainkan peran besar dalam sejarah dunia Islam.
Berbeda dari banyak gerakan oposisi lain yang mudah dipadamkan, Ismailiyah membangun jaringan dakwah dan politik yang sangat terorganisasi. Para da’i mereka bergerak dari Persia, Irak, dan Yaman hingga Afrika Utara sambil menyebarkan gagasan tentang kepemimpinan Ahlul Bait dan kritik terhadap Abbasiyah.
Gerakan itu tumbuh melalui jaringan bawah tanah yang disiplin dan luas. Yang mereka bangun bukan semata oposisi terhadap Baghdad, tetapi juga klaim alternatif atas kepemimpinan dunia Islam.
Pada awal abad ke-10 M, gerakan tersebut berhasil membangun kekuatan besar di Afrika Utara dan mendirikan Dinasti Fatimiyah.
Fatimiyah mengklaim diri sebagai keturunan Fatimah, putri Nabi Muhammad SAW, dan Ali bin Abi Thalib. Klaim itu memberi mereka legitimasi religius yang sangat kuat sekaligus menjadi tantangan langsung terhadap Abbasiyah di Baghdad.
Untuk pertama kalinya sejak awal sejarah Islam, dunia Muslim menghadapi dua kekhalifahan besar yang sama-sama mengklaim otoritas universal.
Di Baghdad, Abbasiyah memosisikan diri sebagai pewaris sah kepemimpinan Islam melalui garis Abbas, paman Nabi. Sementara Fatimiyah mengklaim hak kepemimpinan melalui garis keturunan langsung Fatimah dan Ali.
Persaingan itu berkembang jauh melampaui konflik dinasti. Yang diperebutkan bukan hanya wilayah dan kekuasaan, tetapi juga otoritas moral, simbolik, dan keagamaan atas dunia Islam.
Pada abad ke-10 M, dunia Muslim tidak lagi memiliki satu pusat kekuasaan tunggal. Baghdad, Kairo, dan Cordoba tumbuh sebagai pusat-pusat besar yang saling bersaing dalam politik, perdagangan, dan pengaruh intelektual.
Pada 969 M, Fatimiyah berhasil menaklukkan Mesir dan mendirikan Kairo sebagai ibu kota baru mereka. Dari kota inilah lahir salah satu rival terbesar Abbasiyah.
Mesir memberi Fatimiyah keuntungan strategis yang sangat besar. Letaknya menghubungkan jalur perdagangan Laut Tengah, Laut Merah, Afrika, dan Samudra Hindia. Dalam waktu relatif singkat, Fatimiyah berkembang menjadi kekuatan ekonomi dan maritim penting di dunia Islam.
Pengaruh mereka meluas hingga Hijaz, termasuk Mekkah dan Madinah. Penguasaan atas kota-kota suci itu memberi nilai simbolik besar dalam persaingan melawan Abbasiyah.
Baghdad tidak lagi menjadi satu-satunya poros dunia Islam.
Fatimiyah juga mendirikan Al-Azhar yang pada awalnya berkembang sebagai pusat dakwah dan intelektual Ismailiyah. Berabad-abad kemudian, lembaga itu berubah menjadi salah satu pusat keilmuan Sunni paling berpengaruh dalam sejarah Islam.
Sementara itu, Abbasiyah tetap berusaha mempertahankan wibawa mereka sebagai khalifah Sunni. Meskipun kekuatan politiknya perlahan melemah, Baghdad masih memiliki pengaruh simbolik besar melalui jaringan ulama, tradisi keilmuan, dan legitimasi historis kekhalifahan.
Di Andalusia, keturunan Umayyah yang lolos dari revolusi Abbasiyah membangun kekuasaan baru di Cordoba. Kota itu berkembang menjadi pusat peradaban besar di Barat Islam sekaligus menantang klaim universal Abbasiyah dari Baghdad.
Dunia Islam pun memasuki fase fragmentasi politik yang semakin dalam.
Dari Baghdad hingga Cordoba, dari Kairo hingga Persia, berbagai dinasti mulai membangun otonomi masing-masing. Semakin luas wilayah Islam, semakin sulit mempertahankan satu otoritas tunggal di bawah satu khalifah.
Namun di tengah persaingan itu, peradaban Islam justru berkembang semakin luas dan beragam. Perdagangan, ilmu pengetahuan, seni, dan budaya bergerak melalui jaringan kota-kota Muslim yang membentang dari Samarkand hingga Andalusia.
Dunia Islam tidak lagi bergerak sebagai satu imperium tunggal, melainkan sebagai jaringan peradaban besar dengan banyak pusat politik dan intelektual.
Tetapi di balik seluruh perkembangan itu, persoalan tentang warisan keluarga Nabi tetap menjadi salah satu tema paling menentukan dalam sejarah politik Islam. Dari Karbala hingga Fatimiyah, perebutan legitimasi atas nama Ahlul Bait terus membentuk arah dunia Muslim selama berabad-abad.
Ketika dunia Islam semakin terpecah ke dalam banyak pusat kekuasaan, peta politik kawasan pun berubah drastis. Cordoba berkembang di Barat Islam, Fatimiyah menguasai Mesir dan jalur perdagangan Laut Tengah, sementara di timur kekuatan-kekuatan Turki mulai bangkit mengambil peran militer dan politik yang semakin besar.
Pada saat yang sama, dunia Kristen Eropa mulai bergerak keluar dari fase defensifnya. Laut Tengah, Andalusia, Anatolia, dan Yerusalem perlahan berubah menjadi ruang perebutan pengaruh antara dua dunia besar yang segera memasuki era konfrontasi terbuka.
Baca juga: Dari Hasan ke Karbala: Lahirnya Monarki Dunia Islam
Baca juga: Darah di Madinah
Baca juga: Ketika Quraisy Menjadi Negara
