Bagian 5 dari 14 Serial Historiografi Politik Dunia Islam
Oleh Abdul Kholik
Pada pertengahan abad ke-8 M, Dinasti Umayyah menguasai salah satu imperium terbesar di dunia. Wilayahnya membentang dari Semenanjung Iberia hingga Asia Tengah. Jalur perdagangan Eurasia berada dalam pengaruh dunia Islam, sementara bahasa Arab berkembang menjadi bahasa administrasi lintas kawasan.
Di saat kekuasaan itu mencapai puncaknya, retakan mulai muncul dari dalam.
Pemerintahan Umayyah bertumpu pada elite Arab Syam yang mengendalikan politik dan militer dari Damaskus. Sementara itu, jumlah Muslim non-Arab terus bertambah seiring meluasnya wilayah kekhalifahan.
Kelompok mawali—Muslim non-Arab, terutama dari Persia dan Khurasan—mulai memainkan peran penting dalam ekonomi, administrasi, dan militer. Mereka ikut membangun kekhalifahan, tetapi tetap berada di bawah aristokrasi Arab yang mendominasi pemerintahan. Ketegangan itu semakin terasa di wilayah-wilayah timur.
Khurasan kemudian menjadi pusat pergolakan paling penting. Provinsi yang jauh dari Damaskus itu dihuni tentara Arab, mawali Persia, pedagang, dan kelompok oposisi yang semakin kecewa terhadap pemerintahan pusat. Persaingan antarsuku Arab di wilayah tersebut ikut memperlemah stabilitas Umayyah.
Dari kawasan inilah gerakan Abbasiyah tumbuh.
Gerakan ini berbeda dari banyak pemberontakan sebelumnya. Abbasiyah membangun jaringan propaganda dan organisasi politik yang rapi hingga ke wilayah-wilayah timur. Mereka menawarkan sumber legitimasi baru bagi kekuasaan Islam.
Keluarga Abbasiyah berasal dari garis keturunan Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW. Hubungan genealogis itu memberi mereka pengaruh di tengah kelompok-kelompok yang kecewa terhadap Umayyah.
Dalam propaganda mereka, Abbasiyah mengusung seruan al-Ridha min Aali Muhammad—pemimpin yang diridhai dari keluarga Nabi. Seruan yang sengaja dibuat samar itu menarik dukungan luas, terutama dari kelompok yang berharap kepemimpinan Islam akan kembali kepada keturunan Ali dan keluarga Rasulullah.
Banyak pendukung revolusi mengira kekuasaan setelah Umayyah runtuh akan jatuh kepada keturunan Ali. Kenyataannya, yang tampil justru Abbasiyah sebagai cabang lain Bani Hasyim. Dari sinilah bibit kekecewaan terhadap Abbasiyah mulai tumbuh bahkan sebelum mereka benar-benar menguasai kekhalifahan.
Abbasiyah berhasil menghimpun kekuatan yang sebelumnya tercerai-berai: mawali Persia, oposisi Irak, simpatisan Ahlul Bait, hingga jaringan anti-Umayyah di wilayah timur.
Tokoh paling penting dalam revolusi ini ialah Abu Muslim al-Khurasani. Pada 747 M, ia memimpin gerakan Abbasiyah di Khurasan dan membangun kekuatan militer yang efektif. Pasukan Abbasiyah bergerak dengan bendera hitam yang di berbagai wilayah saat itu dipandang sebagai simbol datangnya zaman baru dan runtuhnya kekuasaan lama.
Ketika revolusi bergerak dari Khurasan menuju Irak, wibawa Umayyah terus melemah. Ketegangan sosial, konflik elite, dan hilangnya kepercayaan terhadap pemerintahan pusat membuat kekuasaan Umayyah semakin rapuh.
Puncaknya terjadi pada 750 M dalam Pertempuran Zab di Irak utara. Pasukan Abbasiyah mengalahkan Khalifah Marwan II, penguasa terakhir Umayyah.
Kekalahan di Zab menandai runtuhnya tatanan politik yang selama hampir satu abad menopang kekuasaan Umayyah. Yang jatuh bukan hanya sebuah dinasti, tetapi juga dominasi aristokrasi Arab yang sejak lama menjadi fondasi utama pemerintahan mereka.
Sesudah kemenangan tersebut, Abbasiyah memburu dan menyingkirkan elite Umayyah untuk memastikan rezim lama tidak bangkit kembali. Sebagian besar keluarga Umayyah dibunuh, simbol-simbol kekuasaan lama dihancurkan, dan beberapa makam khalifah Umayyah dibongkar.
Revolusi Abbasiyah tidak berhenti pada pergantian penguasa. Dari kemenangan itu lahir pusat kekuasaan baru yang mengubah arah politik dunia Islam selama berabad-abad.
Hanya sedikit anggota keluarga Umayyah yang berhasil melarikan diri. Salah satunya ialah Abd al-Rahman I yang kemudian mendirikan pemerintahan Umayyah baru di Andalusia pada 756 M.
Bersamaan dengan naiknya Abbasiyah, pengaruh Persia yang sebelumnya berada di pinggiran pemerintahan mulai masuk ke pusat kekuasaan. Dunia Islam memasuki fase baru: dari imperium Arab-militer menuju kekhalifahan yang lebih birokratis, urban, dan kosmopolitan.
Namun seperti banyak revolusi lain, pemerintahan baru segera menunjukkan wajah kerasnya sendiri. Abu Muslim al-Khurasani, tokoh yang membantu Abbasiyah merebut kekhalifahan, dibunuh atas perintah Khalifah Abu Ja’far al-Mansur sekitar 755 M. Pengaruh Abu Muslim dianggap terlalu besar bagi pemerintahan baru.
Pada 762 M, al-Mansur mendirikan Baghdad di tepi Sungai Tigris. Lokasinya berada dekat bekas pusat-pusat penting Persia Sassaniyah sekaligus jalur perdagangan antara Timur dan Barat.
Pendirian Baghdad menandai perpindahan besar dalam arah dunia Islam: dari orientasi Syam menuju Irak-Persia. Dari kota inilah Abbasiyah membangun pusat kekuasaan baru yang lebih urban, kosmopolitan, dan terhubung dengan jaringan perdagangan internasional.
Baghdad tumbuh cepat menjadi salah satu kota terbesar di dunia abad pertengahan. Pedagang dari Persia, India, Asia Tengah, dan Laut Tengah memenuhi pasar-pasarnya. Sungai Tigris menjadi jalur perdagangan yang menghubungkan berbagai kawasan kekhalifahan.
Di kota ini pula gerakan penerjemahan berkembang dalam skala besar. Karya-karya Yunani, Persia, dan India diterjemahkan ke dalam bahasa Arab melalui dukungan negara dan patronase elite Abbasiyah.
Lingkungan intelektual Abbasiyah kemudian melahirkan perkembangan besar dalam astronomi, matematika, kedokteran, filsafat, dan geografi. Pada abad ke-9 M, Baghdad telah menjadi pusat ilmu pengetahuan terbesar di dunia Islam.
Baitul Hikmah mencapai perkembangan penting terutama pada masa Khalifah al-Ma’mun. Dari Baghdad, karya-karya klasik dipelajari dan dikembangkan kembali sebelum akhirnya memengaruhi Eropa berabad-abad kemudian.
Namun kejayaan Abbasiyah juga melahirkan persoalan baru. Kekhalifahan ini tetap membutuhkan birokrasi besar, militer kuat, dan pengawasan keras terhadap lawan politik.
Kelompok yang dahulu membantu revolusi Abbasiyah pun tidak semuanya memperoleh harapan yang dijanjikan. Banyak pendukung Ahlul Bait mulai menyadari bahwa kekuasaan tidak jatuh kepada keturunan Ali, melainkan kepada cabang lain Bani Hasyim: keluarga Abbasiyah.
Persoalan mengenai siapa yang paling berhak atas warisan politik Rasulullah kembali muncul dalam dunia Islam.
Pada abad-abad berikutnya, persoalan itu melahirkan gerakan dan dinasti baru yang sama-sama mengklaim hubungan dengan keluarga Nabi. Dari Afrika Utara hingga Mesir, perebutan legitimasi atas nama Ahlul Bait kembali membelah dunia Islam.
Baca juga: Dari Hasan ke Karbala: Lahirnya Monarki Dunia Islam
Baca juga: Darah di Madinah
Baca juga: Ketika Quraisy Menjadi Negara
Revolusi Abbasiyah
